Beberapa Penyebab Alergi Menikah


Cintaku seperti strawberry, merah, ranum, dan manis


Yeay, aku baru nikah, nih! Ups, kalau udah ada yang pamer kayak gitu, gimana gituu rasanya.

Intinya bukan karena iri ingin menikah. Tapi iri kok bisa dapetin laki-laki yang dianggap bisa jadi kepala keluarga. Karena jujur, aku pernah kecewa dengan pilihanku. 

Ibaratnya tertipu sampul padahal udah baca bukunya berkali-kali. Kok bisa yah? Bisa aja, sih. Apalagi aku tipe yang kalau udah cinta pasti cinta banget. 

Apa itu hal yang merugikan? Iya bangeett. Apalagi buat kita kaum cewek, aku anjurin sekali jangan full cinta 100 persen. Kayanya ngasih cinta 60 persen juga udah terlalu kebagusan tuh hehe. 

Kebanyakan cewek yang menikah itu pasti muja-muja suaminya. Iyalah, aku juga dulu gitu, kok. Everything i do, i am do it for you tea ning. Parahnya aku selalu yakin dia setia kaya aku pribadi. Nganggap dia juga sayang banget pada diri ini, sama kayak aku sama dia. Padahal oh padahal.... 

Tapi memang dia sayang kok sebenarnya. Semua suami itu pasti sayang sama isterinya. Cuma sayangnya, dia juga bisa sayang sama yang lain haha. 

Tapi ini fakta loh. Pria bisa mencintai wanita dalam waktu yang bersamaan. Parah yah? Sedangkan kita sebagai cewek menuntut kesetiaan yang optimal. 

Ah, itu mah aku banget atuh. Aku termasuk yang menjunjung tinggi kesempurnaan cinta... ahcieee. Tapi memang itu kenyataannya, karena sadar diri selalu setia sama pasangan. Jadinya menuntut kebalikannya, pasangan harus setia juga sama aku. 

Tuntutan ini sedikit merepotkan juga, sih. Apalagi kalau memasuki masa-masa perkawinan. Pengantin baru mah enggak akan tahu rasanya bosan dalam pernikahan haha. Kalau udah lama nikahnya baru kerasa tuh. 

Parahnya, ketika rasa bosan itu muncul bukannya berusaha memperbaiki dari dalam. Eh, tapi malah mencari pelipur kebosanan di luar rumah. Ini kesalahan fatal yang biasanya dilakukan kaum lelaki. 

Padahal istrinya di rumah juga sama bosannya haha. Apalagi yang murni ibu rumah tangga. Alamak, bisa kebayang enggak bosannya mereka? Rutinitas yang itu-itu terus pasti bikin tampang mereka tambah kusut. Belum lagi suami yang nyuekin, halaah tambah kusut dah. 


Cekcok dan saling egois pun kemudian muncul perlahan. Awas... perceraian bisa saja terjadi huhuhu. Nah, pengabdian yang tidak dihargai dan dikhianati adalah poin terbesar alergi untuk menikah muncul. 

Penasaran enggak sama hal apa saja yang bisa menimbulkan alergi menikah? Yuuk, kita lihat saja. 

  • Pernah di-PHP buat nikah. Eh, ternyata malah si dia pergi nikah sama orang lain. Padahal udah setia menunggu. 
  • Dikhianati berkali-kali, dan dianggap remeh sama kaum lelaki. Sampai akhirnya dia takut dan memukul rata semua lelaki tuh emang bajingan. Ups! Maaf. 
  • Mengalami perceraian yang menyakitkan. Trauma karena cinta dan pengabdiannya dikhianati. Ini mah nyeri pisan manteman hik. 
  • Melihat orangtua yang tidak rukun dalam pernikahan mereka, dan bercerai juga akhirnya. Jangan salah loh, trauma ini bisa membekas berupa luka bernanah dan tak pernah sembuh. Eits, so puitis dah abdi. 
  • Melihat pengalaman teman-teman yang mengalami kekecewaan juga perceraian. Ini nih jadi biang keladi juga. Jadinya pan mikir, "haduh tar kalo gue nikah kaya gitu juga ga, yah?"

Dan lain-lain yang masih banyak lagi penyebabnya. Kalau aku mah semua poin di atas komplit deh dialami hehe. Masalahnya gimana cara ngatasinnya? 

Ini yang sulit, karena pertama-tama kita harus bisa memaafkan diri sendiri dulu. Memaafkan masa lalu, dan memaafkan si dia. Walaupun sulit, tapi waktu biasanya lihai dalam mengikis luka-luka. Uhuukk. 

Tanamkan juga pikiran positif, enggak semua yang buruk akan terulang. Tidak semua ketakutan itu benar. Hidup selalu penuh warna, tinggal gimana caranya warna itu ditorehkan. 

Maaf, pacampur bahasanya hehe. Pokoknya intinya mah, jangan menuntut kesetiaan dari lelaki. Karena hal itu tidak mungkin hehe. Ini berdasar obrolan dengan sahabat cowoku yah.  Apalagi ada pepatah tak tertulis seperti ini.

Pria bisa menyayangi seribu wanita, tapi hanya satu wanita yang mendapat cintanya. 

Oh, lebay pisan. Tapi, lagi-lagi itu berdasar obrolan dengan kaum lelaki. Karenanya seperti pernyataanku di atas. Cukup beri cinta yang secukupnya saja buat lelaki.

Cinta sejati itu memang ada, tapi jarang terjadi. Cinta sejati hanya bisa diberi Allah, dan sewajarnya juga kita memberikan yang sebaliknya.

Ah, cukup sekian sajah curhatannya. Semoga aku enggak di-bully hik.

Komentar

  1. Alergi pacaran gapapa kan yaa mba hehe. Salam #1minggu1cerita ya mbaa. Semangat nulisnya, hayu mampir ke blog aku https://www.kamelawar.com/2020/09/Perbedaan-Alergi-dan-Pilek.html

    BalasHapus
  2. Saya termasuk skeptis soal menikah mba hihi. Mungkin karena kebanyakan baca cerita dan psikologi hubungan. Jadinya kayak campuran realistis atau berdiri di kaki sendiri aja kali ya mba? Hehe. Memaafkan diri sendiri masih perlu latian lagi nih, mugi-mugi tetep konsisten. Semangat mba Yola :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Halo, dilarang spam yah. Maaf, kalau ada komentar tidak pantas mimin bakal langsung hapus.

Postingan populer dari blog ini

Black Beauty - Review Novel

Beberapa Kebaikan Bersahabat dengan Kucing