Berpetualang Di Gua Akbar Kota Tuban

Berawal dari membaca buku berjudul "Wali Berandal Tanah Jawa" (George Quinn), aku mulai mengenal Kota Tuban. Sebelumnya nama kota tersebut sangat jarang terdengar di telingaku. Semuanya berubah menjadi rasa penasaran begitu aku menghabiskan satu bab khusus tentang Sunan Bonang di buku yang aku baca. Jiwa hedonku mulai berontak begitu selesai membaca kisahnya. Ujung-ujungnya aku malah menghitung biaya perjalanan ke kota tersebut. Gundah gulana mulai menyerang. Haruskah aku kembali menyerah pada godaan untuk traveling ala backpacker lagi?

Pintu masuk Gua Akbar 


Dimanakah Kota Tuban Itu?

Aku mulai sibuk mempelajari letak serta geografis kota ini dari internet dan Gmaps. Kota Tuban berada di Provinsi Jawa Timur, tak jauh dari Pantura. Aku cukup antusias ketika mempelajari Kota Tuban karena posisinya dekat sekali dengan pantai. Sayangnya, aku tahu kalau air laut di Pantura itu tidak sebiru Pantai Selatan. Hal ini yang membuat aku menahan diri untuk berpetualang ke pantai kali ini.

Cukup surprise juga ketika mengetahui Kota Tuban dekat dengan Bojonegoro. Kalau tidak salah aku pernah membaca mengenai transportasi gratis Simasganteng dari Bojonegoro ke Tuban, ataukah sebaliknya? Setahu aku sih transmoda ini mirip Trans Jatim. Gratis untuk anak sekolah dan juga umum. Sayang sekali, Simasganteng tidak beroperasi kalau hari libur. Termasuk hari Sabtu dan Minggu juga. Karena pada hari-hari ini anak sekolah libur.

Kota Tuban dikenal juga dengan julukan Kota Wali (terutama karena ada situs ziarah wali, Sunan Bonang), Kota Tuak karena Tuban penghasil minuman legen, juga Kota Gua dikarenakan di sini banyak terdapat tempat wisata gua.


Sekitar 30 Ribuan Dari Surabaya ke Tuban

Akhirnya aku bulatkan hati mengunjungi Kota Tuban walaupun masih meraba-raba naik transportasi apa ke sana. Menurut informasi dari internet, aku bisa naik bus ekonomi atau pun AC. Berdasarkan riset mendadak tersebut, ada beberapa tarif bus yang bisa dipilih, mulai dari 30 ribu hingga 100 ribuan. Berbekal informasi ini, aku nekat berencana traveling lagi ala backpacker keluar kota.

Setelah melakukan riset beberapa tempat wisata populer di Gmaps, aku bertekad untuk mengunjungi Kota Wali ini di awal bulan. Rencananya aku tidak akan bermalam, tapi pulang pergi saja.

Di hari H aku memilih naik bus biasa. Sayang aku lupa nama busnya. Tapi tenang saja, pas di terminal Bungurasih nanti ada kernet yang menanyakan tujuan kita. Bilang saja mau ke Tuban pakai bus biasa.

Beruntungnya bus ekonomi ini tidak ngetem lama. Baru juga duduk lima menit busnya sudah jalan saja. Aku ditarik harga tiket 30 ribu untuk sampai ke Kota Tuban. Tempat pemberhentian pertamaku kali ini adalah Pasar Baru Tuban.


Pasar Baru Tuban 

Mentang-mentang bus ekonomi, jalannya melebihi kata "jalan ngebut" hehe. Mirip naik roller coaster saja naik bus ini. Pantat rasanya remuk penuh lebam karena sering terlonjak-lonjak ketika melewati jalanan yang tak rata. Aku heran melihat penumpang yang kuat berdiri. Padahal bus yang aku tumpangi jalannya sangat menyiksa jiwa dan raga.

Untungnya aku sampai di Pasar Baru Tuban dengan selamat. Sekitar tiga jam lamanya aku harus bersabar menahan sakit dan ngilu di beberapa bagian tubuh karena busnya sangat ngebut. Lega rasanya akhirnya bisa menginjak tanah lagi.

Begitu turun dari bus udara panas Kota Tuban mulai terasa. Panas, tapi udaranya bersih, tidak dipenuhi polusi seperti di kota-kota besar. 

Setengah bingung aku mempelajari keadaan sekeliling secara acak. Pasar baru cukup rapi menurutku sebagai sebuah tempat perbelanjaan tradisional. Seorang tukang becak yang melihatku celingukan langsung menawari tumpangan. 

"Alun-alun, Mbak?"

Dengan sopan aku menolak tawarannya karena harus mencari toilet terlebih dahulu. Tukang becak itu memberitahu ada toilet bersih di dalam pasar. Bahkan bapak itu pun berbaik hati menunjukkan warung makan yang ada di samping pasar. Aku mengucapkan terima kasih padanya, lalu masuk ke kawasan pasar.

Pasarnya terlihat agak sepi. Aku sendiri ragu, sepi karena sudah mau tutup atau baru mau buka. Waktu menunjukkan sekitar pukul 9 lebih ketika aku turun dari bus. Setelah menyusuri pasar sambil melihat ada apa saja di dalamnya, aku menyimpulkan kalau pasar ini baru buka.

Ikan Manyung

Dugaanku tidak salah, setelah keluar dari toilet terlihat beberapa warung makan mulai berbenah. Di bagian depan pasar aku tertarik untuk mampir ke sebuah warung. Kelihatannya warungnya baru buka karena ada beberapa pelanggan yang sedang duduk, menunggu si ibu pemilik warung membereskan masakannya.

Aku dipersilakan duduk oleh pemilik warung. Setelah beberapa saat memperhatikan panci-panci masakan, masih tetap saja aku belum tahu akan memesan apa. Kemudian kulihat si ibu menyerahkan mangkuk-mangkuk berisi sayur asam pada pembeli yang sedari tadi duduk menunggu.

"Ikan Manyung, Nak?" tawar si Ibu dengan ramah.
"Rasanya gimana, Bu?" tanyaku polos bercampur rasa penasaran.
"Asam pedas, Nak."

Ikan Manyung

Akhirnya aku putuskan untuk memesan menu ikan Manyung berikut sepiring nasi. Aku berasumsi makanan warung di pasar seperti ini pasti tidak begitu mahal harganya. Apalagi aku lihat makin banyak pembeli yang baru datang ikut memesan menu tersebut. Pastilah enak rasanya kalau banyak yang pesan seperti itu.

Tak lama kemudian si Ibu menyodorkan semangkuk ikan berkuah. Penuh sekali mangkuknya. Aku langsung bersemangat melihat potongan daging ikan yang gendut-gendut. Sedikit aku cicipi kuahnya. Terasa asam dan gurih dari daging ikannya. Jujur baru kali ini lidahku mencicipi rasa yang unik seperti ini. Saking nikmatnya, tak terasa sendok demi sendok masuk ke dalam mulutku ini.

Tekstur ikan Manyung sangat lembut serta empuk. Wangi dari kuah mengaburkan anyir yang tercium dari ikannya. Rempah dan asam yang terasa di kuahnya sangat kuat sehingga menghasikan rasa yang khas. Mungkin kuahnya memakai belimbing wuluh. Biasanya buah itu yang digunakan untuk memberikan rasa asam pada masakan di daerah Jawa sini.

Begitu nikmat aku makan ikan laut ini sampai tak terasa piring sudah bersih sama sekali. Sesaat timbul keinginan untuk tambah nasi saking nikmatnya makan. Untung saja bisa aku tahan begitu teringat perjalanan yang masih panjang. Selain itu, belum tahu juga harganya berapa.

Benar saja, ketika aku membayar pesanan ikan Manyung tadi, si ibu pemilik warung menyebutkan harga yang lumayan untuk seluruhnya. Tadi aku memesan satu porsi menu ikan Manyung asam berikut sepiring nasi, ditambah satu gelas es teh jumbo. Semua jadi 30 ribu kata ibu pemilik warungnya.

Agak kaget juga sih dengan harganya. Kupikir makanan di pasar tradisional tidak terlalu mahal. Tapi memang worth sih dengan rasanya yang enak, porsinya juga banyak. Hanya saja aku jadi penasaran dengan ikan Manyung ini. Refleks aku mencari info tentang ikan ini di internet. Begitu muncul informasi lengkap di beranda aku langsung paham kenapa harganya lumayan.

Ternyata ikan Manyung itu bisa diolah menjadi berbagai jenis makanan, salah satunya dibuat jadi ikan asin, dan dikenal dengan nama Jambal Roti. Setahu aku, Jambal Roti ini banyak terdapat di Pantai Pangandaran di Jawa Barat. Kebetulan aku sering ke pantai tersebut. Dan harga Jambal Roti memang mahal, hampir menyamai harga daging.


Petualangan Di Gua Akbar

Salah satu tujuanku berkunjung ke Tuban karena penasaran dengan alun-alunnya. Hanya saja niatku sedikit berbelok dari tujuan awal setelah mendapat info dari salah satu penjual di pasar. Katanya ada wisata Gua di belakang pasar. Masih agak sedikit blank dengan informasi mendadak ini, aku mencoba mengikuti arahan si penjual tersebut.



Ternyata memang benar, aku mendapati tempat wisata Gua Akbar beberapa meter dari pintu keluar Pasar Baru Tuban yang bagian belakang. Surprise juga sih, karena tidak menyangka ada tempat wisata yang letaknya begitu dekat dengan pasar.

Beruntung loket tiketnya sudah buka. Aku membeli 2 tiket masuk seharga 20 ribu untuk dua orang. Waktu itu jam 10 siang. Kebetulan baru kami berdua pengunjung pertama di hari itu. Di sepanjang jalan masuk kami disambut ukiran di tembok yang menceritakan sejarah asal usul Gua Akbar. Aku jadi antusias begitu mengetahui cerita yang diukir di tembok itu tentang para wali. 

Gua akbar 

Masih terlalu pagi ketika kami mulai memasuki kawasan wisata ini. Beberapa toko suvenir masih belum menunjukkan tanda-tanda akan buka. Ada toko yang menjual minuman dan camilan juga. Sayangnya sama saja, masih tutup. Padahal tenggorokan aku mulai haus karena udara yang terasa panas.

Agak bingung juga harus belok kemana, kanan apa kiri? Jadinya kami mengikuti insting saja. Tak jauh dari warung yang jual minuman tadi ada tanda di dinding yang bertuliskan musala. Toilet juga kulihat ada tandanya. Aku hanya menoleh sekilas, soalnya tempatnya terlihat masih sepi. Kelihatannya musala dan toiletnya terbuat dari bebatuan juga. Bisa jadi masih satu bagian dengan guanya, lalu dipugar untuk dijadikan tempat beribadah.

Kami menemukan tangga turun dari batu dekat musala tadi. Tangganya cukup curam. Entah berapa meter kedalaman yang kami turuni. Pemandangan sepanjang menuruni tangga cukup adem. Ada beberapa pohon rindang menghiasi. Taman yang hijau juga tampak dari atas. Seolah sedang mendekati oase saja vibes-nya.

Jalan berpagar di dalam gua


Aura mistis mulai terasa begitu kaki menginjak anak tangga paling bawah. Beberapa detik aku berusaha menyesuaikan mata dengan penerangan seadanya di bagian luar gua. terlihat ada sebuah kipas angin serta  lampu. Sedikit ragu aku mulai melangkah masuk ke dalam sebuah ruangan dengan dinding dan atap batu. Pasti ini adalah bagian muka dari guanya. Mataku mengerjap, di depanku terbentang gua yang tampak gelap. Suara kelelawar beterbangan terdengar olehku. Bergeming, ragu mulai merayapi hati. Haruskan aku putar balik naik lagi ke atas?

Petualangan Dalam Cahaya Samar

"Engg. Kamu aja deh yang masuk," celetukku tiba-tiba.

Hampir saja aku positif balik badan ketika temanku mengingatkanku akan harga tiket masuk. Katanya sayang loh udah bayar mahal-mahal. Eh, aku lupa sama sekali dengan tiketnya saking terbawa tegang suasana gua yang mencekam.

Akhirnya, mau tak mau aku melangkah masuk juga ke bagian dalam gua. Jujur aku merasa ngeri dan tegang. Guanya itu benar-benar seram menurut versi aku yang lebih senang traveling di bawah cahaya matahari. Belum lagi kelelawar-kelelawar itu yang terbang di atas kepala dengan bebas. Bahkan aku tak bisa menggambarkan jalan masuk dengan benar saat menuliskan ini.

Yang kuingat aku berjalan di atas jalan dengan pagar besi di kedua sisinya. Dan aku ingat seperti menyeberang di sebuah jembatan kecil yang mengelilingi kolam kecil. Kolam berair keruh itu terlihat tenang dalam gelap. Ada batu-batu di bagian tengah kolamnya. Aku tak kuasa menikmati pemandangan kolam itu lama-lama saking merasa seramnya.

salah satu kolam di dalam gua


Batu-batu bertonjolan di atas kepala aku. Dinding gua terlihat berdiri kokoh dalam suram. Aku melewati beberapa kolam lagi selama menyusuri jalan berpagar itu. Jalannya tidak hanya lurus. Kadang turun tangga, naik tangga, melandai, menurun, berbelok, bahkan di beberapa tempat sangat licin akibat tetesan air dari atap gua. Sedikit menyesal juga tidak terpikir membawa senter dalam perjalanan kali ini. Kalau aku menggunakan senter dari ponsel takutnya malah terjatuh dari tanganku. Karena kondisi jalan yang dilalui tidak melulu datar.

Sebenarnya kalau bareng dengan pengunjung yang lain akan lebih seru petualangan menjelajah guanya. Karena kami hanya berdua, jadinya terasa sepi dan menakutkan. Untungnya, di beberapa bagian di dalam gua ada musik yang sengaja disetel dari speaker. Kesan spooky agak berkurang berkat musiknya itu. Untungnya lagi, ada tempat-tempat yang memang sengaja dipasangi kipas angin. Tempat duduk dari bebatuan dan kayu juga disediakan jika ingin istirahat sejenak. Tapi kalau aku sendiri lebih memilih untuk lanjut saja daripada diam dalam pencahayaan yang tidak terang.

Selama menyusuri Gua Akbar ada beberapa petunjuk tentang fungsi beberapa ruangan yang terdapat di dalam gua. Seperti balai pertemuan, dan lainnya. Ada beberapa lorong dalam gua yang dipasangi tanda larangan untuk dimasuki. Jadinya aku tidak menyarankan untuk membawa anak-anak yang rasa penasarannya berlebih. Takutnya mereka malah masuk ke bagian gua yang memang dilarang.

Rasanya lega sekali melihat cahaya matahari setelah berkeliling cukup lama menjelajah gua yang besar ini. Cukup mengherankan juga aku tidak tersesat di dalamnya. Karena phobia berada di dalam ruangan yang gelap dan tertutup itu bisa membuat pikiran orang jadi aneh-aneh sebenarnya. Jujur saja aku sedikit gelisah sewaktu menyusuri gua. Ada rasa takut tidak dapat menemukan jalan keluar. Jalan berpagar itu seperti tidak ada habisnya, dan aku sangat ingin segera menuntaskan petualangan ini.


Gua Akbar Yang Penuh Sejarah 

Sejarah gua ini berkaitan dengan keberadaanWali Songo. Di dinding jalan masuk setelah pos penjaga ada mural yang sejatinya menceritakan sejarah Gua Akbar. Kabarnya gua ini dipakai tempat persembunyian Lokajaya alias Sunan Kalijaga. Waktu itu Sunan Kalijaga masih bertitel bandit. Sebelum ia bertemu dan berguru pada Sunan Bonang. 

Nama Akbar sendiri diambil berdasarkan cerita sejarah. Pertama, dari ucapan Allahu Akbar Sunan Bonang ketika pertama kali menemukan gua. Diambil dari nama pohon Abar yang tumbuh di mulut gua. Lalu mengambil kata "ngabar" yang berarti latihan. Dahulu kala gua ini memang digunakan sebagai tempat latihan prajurit Ronggolawe.




Gua Akbar dipercaya sebagai tempat berkumpulnya para wali. Apalagi di dalam gua ada ruangan yang disebut Paseban Wali dan Batu Gamping Watu Nogo tempat Sunan Kalijaga bertapa. Pada masa Jepang gua ini juga pernah dijadikan tempat penyimpanan senjata dan latihan militer.


Uniknya Gua Akbar

Menurutku gua ini cocok banget buat mereka yang hobi misteri serta berpetualang. Soalnya, selama menjelajah gua aku menemukan ada beberapa lorong dengan larangan masuk. Sayangnya aku lupa untuk ambil fotonya. Di salah satu lorong itu ada tulisan yang menyatakan jalannya itu menyambung hingga ke laut. Wow sekali kan? Kalau ada pemandunya dan diperbolehkan masuk, pasti banyak jiwa-jiwa petualangan yang rela bergelap ria menyusuri lorong gua demi sampai di laut.

Menariknya, bebatuan di gua ini diyakini berusia 20 juta tahun. Di dinding gua juga bisa ditemukan fosil kerang purba. Berarti zaman dahulu gua ini merupakan bagian dari laut. Amazing banget buatku bisa menjelajah Gua Akbar ini kemarin. Walaupun jujur, inginnya cepat keluar saja dari jalur guanya karena agak merasa seram.

Lucunya, aku kemarin tidak memperhatikan kalau di dalam gua ini ada sumber air alami. Padahal sebelumnya aku sempat memarahi teman karena hendak cuci kaki di air. "Awas kualat kamu mau cuci kaki sembarangan!" sergahku waktu itu. Katanya dia sih, itu kayak mata air, setelah aku bercerita padanya tentang Kedung Tirta Agung. Jadinya sedikit menyesal karena tidak sempat merasakan kesegaran air sumber alami tersebut.

Petualangan kemarin aku jadikan pelajaran. Harus riset secara menyeluruh kalau mau traveling ke tempat baru itu. Tapi gara-gara melancong ke Tuban aku jadi tahu kalau kota ini punya banyak tempat wisata yang menarik. Next, aku bakal bikin list wisata mana saja yang akan dikunjungi di kota ini.













Posting Komentar

1 Komentar

Halo, dilarang spam yah. Maaf, kalau ada komentar tidak pantas mimin bakal langsung hapus.