Melawan Diri Sendiri

 


Hal yang paling berat itu bukan melawan takdir atau melawan penindasan orang-orang. Bagiku pekerjaan melawan yang paling berat adalah melawan diri sendiri. 

Mengapa berat? Karena aku jadi terbentuk seperti apa yang diperkirakan orang banyak. Padahal aku tidak seperti itu. Aku jadi benar-benar melakukan persis seperti apa yang mereka ciptakan untuk diriku. Padahal aku tidak seperti itu.

Berulang kali meneriakkan kata-kata yang sama pada diri sendiri itu adalah hal yang berat. Hei, get up! There is so many thing you have to do. 

Tetapi suasana yang mereka ciptakan di kehidupanku jadi benar-benar menyulitkan segalanya. Tidak mungkin aku melakukan sesuatu yang mereka inginkan tapi tidak aku inginkan bukan? Itu akan jadi tekanan berat bagiku dan malah membuat diri ini malas melakukan apapun juga karena merasa disetir. 

Padahal aku punya keinginan sendiri, punya cita-cita sendiri. Aku punya pilihan sendiri, punya tujuan sendiri. Segalanya jadi serba sulit ketika semua tujuan itu dihalangi terus. Mereka menciptakan iklim dimana pada akhirnya aku akan menjadi seperti apa yang mereka inginkan. Padahal aku adalah aku, aku bukan kamu ataupun dia. Aku adalah aku. 

Aku senang bekerja dan seorang pekerja keras. Tapi aku melakukannya untuk hal yang aku sukai, bukan untuk hal yang tidak aku sukai. Aku mencintai anak-anakku dan akan melakukan apapun juga untuk mereka. Tapi aku juga butuh dicintai, jadi sewajarnya aku mengizinkan seseorang untuk berlabuh di hati ini bukan? Bukan berarti segala perhatianku beralih padanya, hanya kebetulan saja dia menjadi temanku dalan suka dan duka. 

Aku pantang mengeluhkan kesulitan di depan siapapun. Aku hanya akan benar-benar menangis di hadapan orang yang aku percayai.

Kemudian apa yang terjadi ketika orang-orang mulai berusaha menyetir kehidupanku? Satu persatu harapanku dipatahkan dan akhirnya semangatku mati sama sekali. Woy, am not your doll! Am not a manekin, am human, and have some dreams to do. 

Yah, semangatku mati, dan sulit bagiku menyalakannya kembali. Bahkan mereka tidak paham kesukaanku pada literasi. Dicemoohnya setiap tulisan dan karya-karyaku. Mereka tidak tahu kalau hidupku tergantung pada aksara. Aku merasa hidup di dalamnya. Bahkan aku sanggup menuliskan berjuta-juta kisah karena aku merasa hidup ketika melakukannya. Harapanku jadi menggebu, semangatku jadi membara ketika berada di antara aksara. 

Apa aku lebay? I dont think so. Hanya orang-orang tertentu yang paham dengan apa yang aku rasakan. 

Kemudian aku sadari aku mulai menjadi seperti yang mereka perkirakan, tapi aku berusaha tidak menjadi yang mereka inginkan. Oh, damn! Biarkan aku menyelesaikan masalahku sendiri. Biarkan menentukan hidupku sendiri, biarkan memilih pasangan sejatiku sendiri. Apa yang kalian lakukan hanya membuatku mati tanpa semangat. 

So, sekarang yang aku sedang lakukan adalah melawan diriku sendiri yang tengah patah semangat. Aku melakukan apapun juga untuk bertahan hidup, bergerak terus, tapi kenapa aku dicemooh terus? Kenapa dijatuhkan terus? Apa aku sombong? Antara sombong dan semangat yang menggebu jelas-jelas beda konotasinya. 

Kenapa ketika aku bekerja menulis dan jualan juga bisa jalan? Karena itu yang namanya keseimbangan. Seperti yin yang wuxing, itu juga yang terjadi pada diriku. Satu engsel bergerak, engsel yang lainnya juga bergerak hingga membuat roda berputar untuk mencapai suatu tujuan. 

Camkan itu, untuk mancapai satu tujuan. Apa tujuanku? Hanya Allah yang tahu sebenar-benarnya maksud dan tujuan seseorang. Karenannya jangan heran kalau selalu ada saja jalan ketika aku dipersulit. Karena Allah yang tahu semua rencanaku, dan Dia selalu menolong ketika aku benar-benar membutuhkannya. 

Lalu apa yang harus dilakukan ketika aku dikondisikan pada suatu hal yang ternyata malah membuatku patah semangat?

KELUAR DARI TEMPURUNG

Yah, betul. Aku dikondisikan untuk nyaman pada keadaan di ruangan terbatas. Padahal hal itu yang membuatku jadi tidak leluasa. Tidak ada informasi, tidak ada pergerakan yang bisa membuat aku menjadi lebih baik pengetahuannya dari hari ini. 

Jadi, apapun yang terjadi, walaupun di malam hari sekalipun aku usahakan meluangkan waktu untuk keluar rumah. 

Mengerikan rasanya menatap buku tapi tidak dibaca. Memegang pulpen tapi tidak menulis. Memandang layar biru dengan tatapan kosong tidak melakukan apapun. 

Itu karena apa? Karena aku dikondisikan berada dalam tempurung. Sesuatu hal yang harus aku lakukan adalah keluar dari tempurung itu dan mulai bergerak lagi. 

MELAKUKAN HAL YANG DISUKAI

Oh tentu saja. Setelah selama berbulan-bulan dikondisikan melakukan hal yang tidak aku sukai, sekarang aku akan melakukan apapun juga yang aku sukai. 

Remember, am human not a doll! 

Apa saja hal yang aku sukai itu? Tentu saja berkegiatan yang bermanfaat. Berkomunitas, berkumpul dengan orang-orang yang mengedepankan pengetahuan. 

Aku nomaden, senang berpindah tempat. Karena aku suka hal yang baru. Aku senang mengenal tempat yang baru dan senang membagikan pengetahuan baru itu untuk orang banyak. 

Yah, peduli apa dengan kata orang kalau memang itu yang aku sukai? Kenyataannya, memang kegiatan-kegiatan itu aku bagikan dalam bentuk tulisan. 

Itu sebabnya aku senang traveling. Yah, karena tujuannya mencari tahu kemudian membagikannya untuk mereka yang belum tahu. Kesenangan yang didapat itu bukan karena ganti suasananya. Tapi lebih kepada bisa membagikan suasana yang dirasakan pada orang lain. 

MEMAAFKAN DIRI SENDIRI

Yah, aku berusaha keras memaafkan diri sendiri karena menjadi seperti ini. Menjadi seonggok tubuh yang tidak berguna karena patah semangat. Atau dengan kata lain dipatahkan semangatnya. 

Apa sebabnya? Aku melihat banyak dalam perjalanan selama berbulan-bulan ini. Ternyata yang membuatku patah adalah sikap mereka yang kerap memperlakukan dengan tidak adil. Bahkan sering bertanya-tanya, kenapa bisa setega itu yah menyakiti seseorang? 

Betul sekali, yang sering membuat drop itu adalah kekecewaan pada tingkah laku mereka. Why they did that? 

But, aku kembalikan lagi pada diriku. Mungkin mereka menyamaratakan semua orang. Menyamaratakan semua kondisi. Mereka berpikir, aka saja bisa, kenapa kamu tidak? Dia saja bisa, kenapa kamu tidak? Padahal setiap orang dan setiap kondisi itu pasti berbeda-beda bukan? 

AKU BUKAN DIRIMU, DAN KAMU PUN BUKAN DIRIKU

Kemudian ada hal lain yang harus aku lakukan untuk melawan diri sendiri. 

MEMBUANG TOXIC DALAM HIDUP

Betul sekali. Aku sekarang sedang dalam tahap membuang racun-racun yang membuat keadaanku semakin tidak menentu.

Apa saja racun itu? Exactly, there is so many toxic in my life. 

Aku sedang mulai menguatkan diri untuk tegas seperti aku yang sebenarnya, dan membuang racun-racun itu. Seperti membuang mereka yang hanya menghambat dan tidak mendukung tahapan rencanaku. 

Teman yang baik adalah yang selalu ada ketika kita dalam kesulitan bukan? 

Termasuk toxic itu adalah masalah percintaan yang tidak berguna. Aku selalu tegas dalam hal perasaan, dan hampir melupakan hal itu. Tapi sekarang tahapan ketegasan itu mulai aku giatkan lagi.

So, itu ada hubungannya tentang menikah?  Tentu saja iya. Menikah adalah keputusan terbesar seseorang karena dia akan terikat selamanya. Menjalani pernikahan bersama orang yang salah adalah hal paling mengerikan. 

Jadi jangan paksakan padaku seseorang yang tidak masuk satu persen pun dalam kriteria. Harus melewati berjuta-juta ruang waktu untuk bisa meyakinkan hatiku pada seseorang. Karena pernikahan yang salah adalah toxic paling berbahaya dalam kehidupan. 

MEMAHAMI ARTI KATA MELAWAN

Hal lain yang aku lakukan adalah memahami arti kata melawan. MELAWAN disini aku artikan dengan mempertahankan keyakinan diri, dan tidak menjadi boneka yang bisa dikendalikan.

MELAWAN adalah memperjuangkan hak diri. MELAWAN adalah usaha memberikan sebuah pengertian akan hal yang terbaik untuk diri sendiri pada orang lain. 

MELAWAN adalah sebuah usaha untuk menjadi lebih baik dari sekarang. 

MELAWAN adalah menyingkirkan semua hal negatif yang ada dan berusaha untuk tetap bergerak. 

Kemudian di akhir kata ini aku tuliskan bahwa MELAWAN adalah seperti hal yang sedang aku lakukan sekarang ini. 

Mengalahkan ego, kemudian menuliskan pemikiran dan pemahaman diri untuk dibaca oleh orang lain. 

Yah, sekarang ini pun adalah tahapan aku untuk melawan diri sendiri. 

So, semangati aku. Karena aku ingin jadi diriku sendiri. Aku yang tak mengenal kata tembok. Aku yang hanya mengenal air, angin, udara, dan matahari. 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Beberapa Penyebab Alergi Menikah

Black Beauty - Review Novel

Beberapa Kebaikan Bersahabat dengan Kucing