Ingin Punya Bestie? Ini Dia 5 Hal Yang Harus Dihindari

ywidya.my.id
ywidya.my.id

 

Pernah nggak punya seseorang yang sudah kita anggap teman tapi ternyata malah bikin galau hati dan pikiran? Ternyata semua rahasia yang seharusnya di-keep sesama teman malah bocor kemana-mana. Parahnya lagi, masalah yang kita percayakan padanya malah jadi pembicaraan umum. Masih mending antara sesama teman dekat lainnya, tapi ini malah menyebar sampai keluar circle pertemanan. Apa seperti ini yang dinamakan bestie? Tentu saja tidak menurut saya.

Menurut Saffer, persahabatan diartikan sebagai sebuah hubungan yang kuat dan bertahan lama antara dua individu yang dikarakteristikkan dengan kesetiaan, kekariban dan saling menyayangi. Pengertian ini untuk seorang sahabat tentunya. Harus digarisbawahi, ada perbedaan arti antara teman dan sahabat. Seorang teman belum tentu bisa dikategorikan sahabat. Namun, seorang sahabat sudah bisa dipastikan adalah teman.

Bagi saya, teman adalah mereka yang selalu siap menemani. Berbagi cerita, nongkrong bareng, punya hobi yang sama dan mau mendengarkan masalah kita. Tapi teman belum tentu sahabat. Sahabat menurut saya adalah teman yang selalu ada di saat senang atau pun sedih. Seorang sahabat pastinya terlibat secara emosi dengan kita. Jadi dia juga akan merasakan dan ingin ikut terlibat di saat kita sedang mendapatkan masalah. Sedangkan teman biasanya tidak terlibat secara emosional ketika kita sedang ditimpa kesulitan.

Ciri-ciri Bestie yang Baik

Bestie yang diambil dari kata serapan Bahasa Inggris sebenarnya berarti teman dekat atau sahabat. Tapi dalam bahasa slang atau informal di media sosial, kata bestie banyak digunakan untuk menyapa seseorang biar terkesan lebih akrab dan hangat. Kalau saya sendiri menggunakan kata bestie di tulisan ini sesuai arti aslinya, yaitu sahabat. Nah, berdasarkan pengalaman pribadi saya, seseorang bisa disebut sahabat kalau punya ciri-ciri seperti ini;

  • Sahabat selalu siap setiap dibutuhkan, ketika saya butuh pelukan atau pundak buat menangis dia pasti ada.
  • Sahabat selalu siap menolong, dia pasti selalu ingin terlibat dengan setiap permasalahan dan berusaha memberikan solusi.
  • Sahabat selalu jadi tameng ketika kita lemah, ketika kita terpuruk atau dijahati orang, dia pasti selalu siap untuk jadi pelindung.
  • Sahabat selalu ikut bahagia ketika kita bahagia, dia akan ikut senang ketika saya mendapat kebahagiaan dan tak mungkin merasa iri.
  • Sahabat akan memberikan kebebasan, dia akan paham ketika saya butuh ruang pribadi dan tidak berusaha memaksakan kehendaknya.

 

Berarti saya menilai seseorang dan menyebutnya sahabat dilihat dari keterlibatan dirinya secara emosional. Yang namanya teman belum tentu bisa melakoni semua poin-poin di atas. Karena biasanya teman terlibat untuk hal-hal terbatas saja. Misalnya, menemani karena punya tujuan sama seperti hobi yang serupa.

Karena itulah saya cukup selektif dalam memilih teman, terutama lingkaran pertemanan. Teman haruslah mereka yang membuat kita nyaman. Hal inilah yang mengharuskan saya memilih circle pertemanan yang positif. Jangan sampai saya terlibat dalam pertemanan yang menjuruskan pada hal negatif. Semangat kita akan terpompa ketika bergaul dengan orang yang pantang menyerah. Sebaliknya, kita juga bisa berubah jadi pesimistis ketika dekat dengan orang yang pemalas.

 

Lingkaran Bestie Yang Patut Dipertahankan

Sebenarnya cukup mudah untuk menentukan apakah lingkaran pertemanan tersebut baik atau tidaknya untuk kita. Seperti yang saya coba jabarkan di bawah ini.

  • Lingkaran pertemanan yang baik akan menerima kita apa adanya.
  • Adanya kebebasan pribadi, pertemanan tersebut tidak akan memaksa kita untuk melakukan segalanya secara bersama-sama.
  • Adanya pengertian dan saling mendengarkan ketika anggotanya memiliki masalah.
  • Saling tolong menolong ketika ada yang tertimpa kesusahan
  • Mengingatkan ketika kita berbuat salah

 

Pastinya nggak segampang itu mencari dan mendapatkan orang yang bisa dijadikan teman. Apalagi di zaman sekarang banyak orang jahat berkedok orang baik. Jadinya cukup sulit untuk menentukan apakah si dia itu bisa dijadikan teman atau tidaknya. Lebih sulit lagi menentukan seorang sahabat. Karena persahabatan biasanya tidak terjalin instan. Butuh waktu cukup lama untuk saling memahami dan akhirnya terlibat secara emosional dengan seseorang itu.

Saya sendiri menerapkan beberapa tips berikut untuk memilih teman dan lingkaran pertemanan yang positif.

 

Gimana sih cara milih bestie yang cocok dengan kita?

  • Lebih enak kalau berteman dengan orang lama, seperti teman sekolah atau tetangga rumah.
  • Memilih teman yang satu hobi dengan kita, biasanya kalau satu hobi jadi nyambung kalau mau ngobrol-ngobrol.
  • Kalau ketemu orang baru pelajari dulu kebiasaannya. Saya akan jaga jarak sekiranya berteman dengannya hanya membuat jadi boros atau sering kelayapan cuma buat nongkrong nggak jelas.
  • Memilih teman yang mau menerima kita apa adanya. Saya pasti menjauh sekiranya dia tipe orang yang nge-boss alias suka ngatur.
  • Suka dengan orang yang apa adanya dan rendah hati. Sudah jelas saya nggak akan cocok dengan dia yang suka nyombong dan suka bersaing hal-hal yang kurang jelas manfaatnya.
  • Memilih si dia yang berempati tinggi. Jelas saya sangat menghargai orang yang cepat tersentuh hatinya alias iba ketika melihat ketidakadilan.

 

Tentu saja tipe bestie saya akan berbeda dengan tipe kalian. Setiap orang punya penilaian sendiri akan rasa nyaman dalam pertemanan. Masing-masing pastinya memiliki kriteria tersendiri untuk si dia yang bisa dijadikan teman atau sahabat. Jangan hanya karena takut disebut kuper atau sombong jadinya asal dalam berteman. Saya selalu memegang 5 prinsip berikut ini untuk menjalin pertemanan


5 hal yang harus dihindari ketika memilih teman

  • Melakukan segalanya untuk si dia hanya demi diaku sebagai teman, jangan mau diperintah melakukan hal-hal bodoh hanya untuk diakui sebagai teman.
  • Menghabiskan seluruh waktu dengan si dia, seringkali ada tuntutan kesetiaan dari pertemanan. Tapi bukan berarti harus mengorbankan kegiatan penting kita hanya untuk sebuah pengakuan.
  • Mendahulukan kepentingan si dia, hanya demi dianggap setia kawan akhirnya kita lalai dengan tugas atau pekerjaan demi menyenangkan hati teman. Padahal misalnya hanya sekadar menemani jalan-jalan di mall.
  • Mengabaikan pendapat orang lain dan membela si dia sepenuh hati, jangan tutup mata dan telinga ketika ada masukan dari sekitar kita tentang dia. Tidak perlu juga mencak-mencak membelanya padahal baru kenal seminggu.
  • Menceritakan keadaan personal kita secara gamblang, tidak perlu menjawab sedetail mungkin pertanyaan dia tentang kita. Jangan melakukan hal bodoh hanya demi kata keterbukaan. Dalam waktu yang tak lama, hasil dari keterbukaan itu akan berubah jadi bahan pembicaraan orang-orang.

 

Percaya deh, kita akan lebih baik tanpa teman atau bestie jika kehadiran mereka justru membawa banyak masalah. Tentu saja orang yang memiliki kedewasaan secara emosional bisa mengantisipasi hal tersebut. Tapi bagaimana dengan mereka yang masih labil? Seperti misalnya para ABG. Anak remaja yang emosinya masih labil biasanya akan mencari pertemanan yang membuatnya nyaman. Apalagi jika dirinya merasa tak dianggap di lingkungan terdekat, seperti dalam keluarga.

Anggap saja remaja ini mendapatkan circle pertemanan yang sejalan dengan visi misinya. Dengan kata lain dia berteman dengan mereka yang memiliki hobi sama. Tentunya hal ini tidak perlu dipermasalahkan karena ia berada dalam pertemanan yang positif. Namun, bahayanya kalau remaja itu masuk ke dalam lingkaran yang lebih spesifik tujuannya. Misalnya geng-geng yang anggotanya memiliki pandangan sama tentang pergaulan bebas. Hal seperti itu yang berbahaya dan butuh pengawasan dari orang-orang terdekatnya.

Punya bestie itu penting, tapi berteman bukan cuma tentang hura-hura dan tertawa. Berteman lebih kepada saling memberikan dukungan, saling membantu, saling memberi  semangat pada hal-hal yang positif. Teman yang baik akan selalu ada ketika kita sedang kesulitan dan akan berusaha membantu. Kalau dia pergi ketika kita kesulitan, berati dia bukan teman.

“Jangan berkawan dengan orang yang berbudi rendah, sebab ia kan menjualmu dengan harga yang murah. Jangan berteman dengan seorang pendusta, sebab ia sama saja dengan fatamorgana, mendekatkan bagimu yang jauh dan menjauhkan yang dekat.” (Ali bin Abi Thalib)